AWAS BAHAYA LATEN KORUPSI: KORUPTORSAURUS TIDAK TAHU MALU!


AWAS BAHAYA LATEN KORUPSI: KORUPTORSAURUS TIDAK TAHU MALU!

Pemberantasan KORUPSI di Indonesia dilakukan secara SERIUS atau Hanya DAGELAN?

 

oleh Syarif Hidayat

 

     Awas bahaya laten KORUPSI: KORUPTOR tidak tahu MALU! Pemberantasan KORUPSI di Indonesia saat ini dilakukan secara SERIUS atau Hanya merupakan DAGELAN KUALITAS RENDAH DENGAN PARA PEMAINNYA YANG DIBAYAR MAHAL, untuk membohongi rakyat tentang upaya pemberantasan penyakit mental dan moral para pejabat Negara ini?

Sampai saat ini belum ditemukan jawaban yang pasti, namun kegiatan yang BUSUK itu akhirnya mulai banyak yang tercium juga oleh masyarakat luas dan semakin banyak terungkap antara lain disamping hasil penyidikan KPK atau Polisi, juga melalui pengungkapan oleh para ‘whistle blower.’

Munculnya para ‘whistle-blower’ ini merupakan sebuah hikmah yang muncul dari balik pertengkaran diantara para Kruptorsaurus.Mungkin karena persaingan ketat di antara para bajingan Korruptorsaurus dalam “Bisnis Perkorupsian” (karena ruang lingkup daerah operasi mereka semakin menyempit sebagai hasil dari semakin berhasilnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam memberantas Budaya KORUPSI ini dengan menangkap para Koruptorsaurus), telah menimbulkan pertengkaran diantara mereka sendiri.

       Sebuah pepatah Jerman mengatakan:Wenn Gauner sich streiten, kommt die Wahrheit ans Licht. – Arti letterlijk: “Ketika para bajingan bertengkar, kebenaran akan terungkap terang benderang.”Maknanya: “Rahasia tentang Penyelewengan, KORUPSI dan suap menuap atau tindakan kriminal lainnya hanya akan dapat disimpan selama para pelakunya tidak bertengkar diantara mereka sendiri.”

 

Ungkapan klasik mengatakan: walaupun ditutup-tutupi serapih apapun juga, kebusukan itu akhirnya akan tercium juga.” Justru kalau ditutup-tutupi yang busuk itu akan semakin busuk dan menyebarkan bau busuk kemana mana sampai ke luar negeri karena sebagian besar KORUPTOR Kelas Kakap melarikan diri dan bersembunyi di luar negeri terutama di Singapura!

Sementara itu sebuah pribahasa Jerman mengatakan: “: “Lügen haben kurze Beine.” Arti letterlijk: “Kebohongan punya kaki pendek.” Ekuivalen: “Kebohongan itu tidak bisa bepergian jauh, karena kakinya pendek.” Maknanya: ”Semua kebohongan itu tidak akan pergi jauh, tetapi akan terus berputar di situ situ saja dan kembali menghantui si pembohongnya.”

Para aktor DAGELAN tersebut harus dibayar mahal dengan kerugian Negara ratusan miliar bahkan triliunan rupiah. Karena ini uang Negara berarti juga uang rakyat.

Pertarungan antara kepintaran para Gembong KORUPTOR bersama jaringannya yakni para BADUT Penegak Hukum, Mafia Hukum dan Markus (karena kekuatan keuangannya yang cukup besar maka sebut saja sebagai Koruptorsaurus) melawan Para ELIT Penegak Hukum (para Penegak Hukum yang jujur, tegas dan adil) cukup seru dan juga lucu.

Nampaknya para KORUPTORSAURUS sampai saat ini yang masih menjadi pemenangnya. Mereka berada di atas angin. Mereka bisa dengan mudah kabur ke luar negeri, pura pura sakit atau berdalih bahwa uangnya yang miliaran atau bahkan mungkin sampai triliunan rupiah itu merupaka hasil bisnis atau hibah.

 

Pengacara senior Adnan Buyung Nasution sudah beberapa kali mendesak Pemerintah cq Presiden SBY dan seluruh jajaran penegak hukumnya agar dalam upaya memberantas KORUPSI dan menegakkan hukum demi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, jangan pandang bulu, siapapun KORUPTOR itu harus ditindak tegas!

KPK dan instansi-instansi penegak hukum lainnya nampaknya masih menghadapi kesulitan besar untuk memberantas tuntas KORUPSI yang sudah begitu membudaya di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Budaya KORUPSI dan BERBOHONG diantara sebagian pekabat Negara di NKRI ini telah menimbulkan industri jasa “busuk” derivative (produk sampingan) lainnya yakni “Mafia Hukum” dan “Mafia Pajak” dengan para Markus (Makelar Kasus) sebagai para pelaksana, serta Mafia Calo Anggaran di DPR.

Kalau budaya “busuk” ini terus bertahan atau bahkan berkembang, dapat dipastikan Indonesia Tanah Airku dan Tumpah Darahku ini akan semakin ketinggalan maju oleh negara negara tetangga yang para pejabatnya berlomba memajukan negaranya dan mensejahterakan rakyatnya dan bukannya berlomba dalam berbudaya “busuk.”

 

Pezholim asli

 

     Kejadian lucu atau aneh tapi nyata adalah ada sebagian yang diduga, tersangka atau tertuduh melakukan KORUPSI mesara dizholomi oleh KORUPTOR lainnya.

     Zholim menzholimi atau tipu menipu antara sesama KORUPTOR sebenarnya wajar karena kegiatan KORUPSI sendiri sudah merupakan perbuatan zholim terhadap orang lain. Kalau sesama KORUPTOR lebih baik jangan merasa dizholimi oleh KORUPTOR lainnya tetapi anggap saja persaingan “Bisnis PERKORUPSIAN” yang semakin ketat mungkin karena ruang lingkup wilayah operasi mereka semakin terbatas sebagai akibat atau hasil peningkatan kerja Komisi Pemberantasan KORUPSI (KPK) dan semakin luas disoroti oleh masyarakat umum.

     Begitu parahnya perkembangan “Budaya KORUPSI” di tanah air kita ini, sehingga para KORUPTOR yang berlomba atau bersaing secara ketat mencuri uang Negara atau berlomba dalam suap menyuap menggunakan uang Negara atau menerima suap, yang satu merasa dizholimi oleh yang lainnya.

     Karena kegiatan zholim menzholimi diantara para KORUPTOR ini semakin memburuk, sampai sampai ada seorang pengacara bekend yang sering membela para KORUPTOR kelas kakap, juga mengatakan dalam sebuah diskusi di TV: Anda anda juga kalau dizholimi Singapurlah tempat tujuan yang aman untuk melarikan diri dan bersembunyi.

      Mereka nampaknya sama sekali tidak menyadari atau ingat bahwa yang benar benar dizholimi disini adalah rakyat Indonesia yang sebagian diantaranya di beberapa daerah begitu melaratnya sehingga, menurut berita di berbagai media ada yang menderita busung lapar dan bahkan ada yang mengidap penyakit akut hanya pasrah menunggu kematian di tempat tidurnya karena keluarganya tidak punya uang untuk berobat.

 

      Potret buram kemiskinan dan jauh dari hidup layak senantiasa menghiasi televisi dan media cetak tanah air, namun yang sangat disayangkan ketika issu kemiskinan dijadikan sebagai komoditas politik untuk meningkatkan popularitas sang calon pemimpin, bukan sebaliknya menawarkan langkah-langkah kebijakan staregis untuk menuntaskan permasalahan yang dihadapi oleh rakyat.

 

      Sejatinya berbagai masalah yang ada hendaklah benar-benar dicarikan jalan keluarnya, jangan lantas kumpulan kisah muram kemiskinan yang didapat selama masa kampanye dicampakkan begitu saja setelah kekuasaan berada di genggaman.

 

      Diakui Sangat sulit mencari seorang figure pemimpin yang mengerti dan mau memahami rakyat dengan tulus dari dasar hati dan berbuat untuk rakyat bukan hanya menjelang pemilu namun sudah menjadi keseharian dari setiap prilakunya. Inilah figure pemimpin masa depan bangsa yang dibutuhkan oleh sekitar 250 juta rakyat Indonesia.

      Semakin gencarnya para politisi mendekati lumbung-lumbung suara rakyat tak ada yang salah jika memang niat berjuang demi perbaikan nasib rakyat, apalagi di negara demokrasi seperti Indonesia, berbagai kebebasan berpolitik yang pada masa orde baru di belenggu pasca reformasi di buka kembali. Hak-hak politik warga Negara saat ini benar-benar di lindungi dan di jamin oleh undang-undang.

      Sebagai abdi masyarakat sejatinya semua pejabat negara adalah pelayan rakyat tak peduli apapun status social yang disandang rakyat., jadi jika hal ini dipahami sepenuhnya oleh para elit politik, tidak ada lagi istilah untuk dilayani dan menjadi raja kecil di setiap tempat pelayanan publik sehingga masyarakat benar-benar merasakan manisnya pelayanan dari aparatur kita.

 

 

Budaya Malu yang PERLU DITANAMKAN

     Malu punya arti luas, seperti malu jika pernah menjabat tak mampu mewujudkan janji pada rakyta, malu jika setelah menjabat berbuat KORUPSI, KOLUSI dan NEPOTISME (KKN), malu jika malas ngantor untuk mengurus rakyat, malu jika melihat rakyat meminta-minta di jalan raya sementara mereka bergelimang harta dan kemewahan.

 

Itulah sebabnya budaya malu ini perlu terus ditanamkan pada diri para pejabat Negara kita agar segala tindak tanduk mereka positif dan didukung rakyat dan bukannya Budaya KORUPSI yang sangat merugikan rakyat yang dikembangkan!

     Salah satu penyebab mengapa KORUPSI begitu mengakar di lembaga-lembaga kekuasaan di negeri ini boleh jadi disebabkan karena hilangnya rasa malu pada diri sebagian elit penguasa di negeri ini. Dengan mengkorupsi uang rakyat mereka sebenarnya menekan hati nurani mereka sendiri yang jelas-jelas berontak dan tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan.

      Pada dasarnya rasa malu merupakan fenomena sosial yang secara subyektif dilakukan oleh orang atau pihak tertentu. Secara obyektif ada orang yang tahu malu dan ada pula yang tidak tahu malu. Menyingkap tabir “BUDAYA MALU” tidak lebih hiruk pikuk apabila dibandingkan dengan “BUDAYA KORUPSI”. Meski bernuansa senada yaitu menyangkut watak dan kepribadian seseorang, pada KORUPSI yang menjadi fokus adalah persoalan materi. Sedangkan dalam hal “MALU”, lebih bersifat non materi.

 

     “BUDAYA MALU” penekanannya adalah menyangkut masalah moral dan harga diri. Ada perbedaan mendasar dan bertolak belakang dalam hal ini: bagi yang tidak KORUPSI  diartikan sebagai suatu hal positif, sedangkan yang tidak tahu malu adalah negatif.

       Kapan untuk menunjukkan rasa malu bagi masing-masing individu adalah sangat relatif tergantung kepada pribadi, waktu, tempat serta konteks permasalahan yang dihadapi oleh orang perorang. Untuk membangun “BUDAYA MALU”, fungsi agama dan lembaga pendidikan adalah sangat penting dan ikut menentukan. Apabila sampai pada keadaan bahwa orang sudah tidak punya malu, maka misi agama dan lembaga pendidikan dianggap gagal. Lalu akan seperti apa jadinya dunia ini?

      Rasa malu pada hakekatnya tidak terlepas dari kriteria adat istiadat, kebiasaan dan budi luhur yang dimiliki oleh bangsa berbudaya. Sebagai bukti adalah adat kebiasaan orang Jepang yang lebih baik melakukan “hara-kiri” (bunuh diri khas Jepang dengan merobek perut menggunakan Samurai) atau mundur dari jabatannya dari pada harus menanggung malu karena diduga melakukan KORUPSI.

     Paruh kedua September 2008 menteri pertanian Jepang mengundurkan diri akibat permasalahan beras yang tercemar pestisida dan jamur. Selang beberapa hari kemudian menteri transportasi juga mundur akibat serangkaian pernyataannya yang membuat gusar berbagai pihak.

     Di negara lain yang dengan sistem demokrasi sudah mapan seperti di Korea Selatan, juga sering terjadi kasus bunuh diri atau pengunduran diri pejabat Negara karena merasa malu diduga atau dituduh melakukan KORUPSI.

 

Nasib “Rasa Malu” di Indonesia ini sangat menyedihkan!!

 

      Pada kenyataannya sekarang ini di Indonesia masih terdapat orang-orang yang melakukan KORUPSI, melakukan pungutan liar, sengaja memalsukan data, melakukan kebohongan publik dan banyak lagi tindakan yang kurang etis serta perilaku menyimpang lainnya. Pelakunya juga bervariasi tanpa memandang pangkat, jabatan, kedudukan, latar belakang pendidikan dan strata sosial.

 

      Secara kasat mata semua itu dilakukan oleh orang-orang yang cukup terhormat namun ASOSIAL dan tidak punya RASA MALU. Golongan semacam ini tanpa ragu berani melanggar hukum, adat kebiasaan dan tradisi. Berbagai kasus membuktikan bahwa KORUPSI di Indonesia terjadi bukan karena alasan kemiskinan si pelaku KORUPSI, akan tetapi karena yang bersangkutan TIDAK TAHU MALU dan SERAKAH!

     Para pejabat Negara baik dari Eksekutif, Yudikatif maupun Legislatif yang diduga atau tersangka dengan bukti bukti yang sudah dibeberkan di media masa bahwa mereka diduga melakukan KORUPSI atau MENERIMA SUAP, ketika mereka ditangkap KPK atau Polisi, masih juga jengengesan tertawa dan bahkan bersikeras membantah melakukan KORUPSI atau Menerima SUAP dengan berbagai alasan bahwa uangnya yang berjumlah miliaran atau mungkin triliunan di rekeningnya itu adalah hasil bisnislah atau hibahlah!

     Setelah divonis dan dijatuhi penjara oleh Pengadilan karena terbukti bersalah melakukan KORUSPI atau Terima SUAPpun, begitu keluar dari ruang sidang pengadilan, mereka masih melambai-lambaikan tangan dan menebar senyum ke hadapan pers dan kamera Televisi, mungkin mereka merasa menang perkara karena hukuman yang mereka dapatkan ringan.

       Kenapa di Indonesia “mereka-mereka” (para pejabat negara baik dari Eksekutif, Yudikatif maupun Legislatif yang melakukan atau terlibat tindak pidana KORUPSI) itu masih nampaknya terus berlomba KORUPSI, TERIMA SUAP dan BERBOHONG saja yah?

Sebuah pribahasa Jerman mengatakan: “Der Fisch stinkt vom Kopf her.” – Arti letterlijk: “Ikan busuk mulai dari kepalanya.” – Maknanya: “KORUPSI dimulai dari atas.” Oleh karena itu diperlukan suatu upaya nasional yang melibatkan semua konponen bangsa ini untuk memberantas Budaya KORUPSI ini.  

 

      Menggunakan “KOSMETIK” apa pada muka muka mereka?: “Tembok”, “Beton” atau “Kegilaan Akut Akan Harta Benda”, sehingga mereka tidak lagi mempunyai rasa MALU sedikitpun.  Apakah RASA MALU sudah hilang dari diri mereka? Bermoral sangat rendah? Tingkat keimanan sangat rendah atau tidak ada sama sekali karena agama yang mereka anut masing masing hanya sekedar tanda status beragama dalam KTP mereka?

     Pembicaraan menjadi akan lebih panjang dan semakin hangat apabila kita dihadapkan kepada pertanyaan sbb.: Apakah bangsa Indonesia masih punya RASA MALU? Atau : Apakah kebudayaan Indonesia yang dikatakan tinggi itu harus minus MALU? Dimanakah sebenarnya keberadaan malu itu? Jawabannya terletak pada lubuk hati masing-masing orang, watak serta mentalitas bangsa baik dari kalangan intelektual maupun yang kurang berpendidikan.

     Sasaran kritik terhadap suatu keadaan merupakan kontrol sosial yang ditujukan kepada penguasa dan penyelenggara negara, karena dalam banyak hal kondisi Indonesia masih compang-camping. Penyelewengan serta berbagai kejanggalan baik di lembaga resmi termasuk Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif maupun masyarakat masih marak dan tidak terukur.

Semuanya bertumpu kepada kebijakan/regulasi pemerintah. Dengan banyaknya pelaku KORUPSI tertangkap oleh KPK dan kepolisian serta aparat penegak hukum lainnya di negeri ini semoga ke depan para elit penguasa lebih punya RASA MALU dalam memberikan pelayanan pada rakyat.

 

Malu Adalah Sebagian Dari Iman

 

 

     Nabi Muhammad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malu merupakan bagian dari iman dan iman itu di surga sedangkan badza’ (ucapan cabul) itu merupakan bagian dari jafa’ (tabi’at kasar) dan jafa’ (tabi’at kasar) itu di neraka.” (HR. at-Turmudzi, Hasan Shahih)

Nabi Muhammad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah malu.” (HR. Malik dan Ibn Majah). Saking pentingnya sifat malu dan tingginya kedudukannya, maka ia merupakan karakteristik Agama Islam dan juga semua agama terdahulu. Ia merupakan salah satu dari sekian syari’at-syari’at terdahulu yang tidak dihapus. Dan cukuplah untuk menunjukkan betapa kedudukan malu sangat tinggi, penilaian bahwa ia merupakan sebagian dari iman dan jalan menuju surga.

 

Definisi malu: Para ulama mendefinisikan malu secara bahasa yakni perubahan dan kekalahan diri yang dialami manusia akibat rasa takut dicela. (Fath al-Bari, I:56)

Sedangkan definisi malu secara istilah syari’at adalah sifat yang mendorong diri menghindari hal yang buruk dan mencegah ketidak-optimalan dalam memberikan hak kepada pemiliknya. Oleh karena itu, dalam hadits dikatakan, “Malu itu semuanya baik.” (Fat-h al-Bari, I:56)

Malu merupakan tanda kebaikan dan salah satu dari cabang iman sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Iman itu memiliki tujuh puluh tiga-an (tujuh puluh tiga hingga tujuh puluh sembilan) cabang, dan malu merupakan bagian dari iman.” (HR. al-Bukhari). Pertanyaan penting di sini, mengapa malu merupakan bagian dari iman? Mengapa pula ia disebutkan secara tersendiri dari sekian cabang-cabang iman?

 

Ada pun mengapa ia merupakan bagian dari iman, hal ini karena seperti yang dikatakan, Ibn Qutaibah rahimahullah,

“Sesungguhnya malu mencegah pemiliknya dari melakukan perbuatan maksiat sebagaimana iman mencegahnya, maka dinamakan dengan iman. Sebagaimana juga sesuatu dinamakan dengan nama yang mewakilinya.”

     Ibn al-Atsir rahimahullah berkata, “Malu yang merupakan watak itu merupakan bagian dari iman. Ia juga sesuatu yang dihasilkan (bukan eksis dengan sendirinya) sebab dengan sifat malunya, si pemalu akan terputus dari perbuatan-perbuatan maksiat sekalipun bukan sebagai tameng atau pencegah baginya. Maka jadilah ia seperti iman yang memutus antara pelaku maksiat dan kemaksiatan. Malu dijadikan sebagian iman karena iman terbagi kepada sikap mengikuti perintah Allah subhanahu wata’ala dan berhenti dari larangan-Nya. Bila sudah berhenti melalui sifat malu, maka ia menjadi sebagian dari iman.” (an-Nihayah Fi Gharib al-Hadits, I:470)

Komisi Pemberantasan KORUPSI (KPK) dengan segala kekurangannya dan berbagai hambatan yang dihadapinya, masih tetap menjadi jadi tumpuan harapan rakyat dalam menuntaskan pemberantasan Budaya KORUPSI. Kita sangat berharap agar KPK dengan pemimpinnya yang baru dapat melakukan gebrakan yang sungguh sungguh pro penegakkan hukum dalam rangka memberantas tuntas Budaya KORUPSI dan membela keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

     Disamping itu, saya yakin, kalau pemberantasan KORUPSI ini dilakukan secara serius akan dapat mendatangkan hasil yang menggembirakan bagi rakyat. Saya juga yakin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempunyai kemampuan untuk menangkap para KORUPTORSAURUS atau monster monster kriminal kaya raya hasil KORUPSI tersebut walaupun bersembunyi di luar negeri sekalipun. karena disamping dapat mengerahkan kekuatan POLRI, Presiden SBY juga dapat memerintahkan kepada seluruh aparat intellijen Negara antara lain BIN dan BIA untuk mendukung operasi kepolisian.

 

 

Pengadilan Allah SWT Yang Maha Adil

 

 

     Selamat dari pengadilan di dunia dengan hanya mendapatkan vonis ringan atau bebas sama sekali, di akhirat nanti ada pengadilan Allah SWT Yang Maha Adil. Tidak hanya KORUPTOR, tapi semua manusia akan dimintai pertangungjawabannya atas semua amal perbuatannya selama hidup di dunia!

     Hari akhirat, hari setelah kematian yang wajib diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang beriman kepada Allah ta’ala dan kebenaran agama-Nya. Hari itulah hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan yang sempurna, hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi sewaktu di dunia, hari yang pada waktu itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata dengan penuh penyesalan.

 

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.  Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami {1} pembicaraan sedikit pun? {2} – Al Qur’an, Surah An-Nisaa, Ayat 78.  

 {1}Kemenangan dalam peperangan atau rezeki.  

{2}Pelajaran dan nasihat-nasihat yang diberikan.

 

 

”Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (Al Qur’an, Surat Al Mudathsir, ayat 38)

 

 

“Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) memperbaikinya. Dan berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS : Surat al-A’raf, 56)

 

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hasyr: 18)

 

“Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (Qs.  An Naazi’aat: 37-41).

 

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Qashash: 83)

 

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim: 27)

       Marilah kita mulai dari diri kita sendiri berbuat yang positif untuk mengatasi dan juga bertindak untuk memberantas Budaya KORUPSI ini atau kalau tidak mempunyai kekuasaan untuk melakukan tindakan, berbicaralah dan kemukakan pendirian kita yang menentang wabah moral dan mental yang merusak bangsa dan Negara ini, tetapi kalau juga tidak mempunyai keberanian untuk berbicara, berdo’alah untuk menyelamatkan negeri ini dari para Koruptorsaurus atau “Monster Monster” penghisap “darah” (ekonomi) Bangsa dan Negara agar kita dapat mewariskan negeri yang merupakan tanah air yang subur makmur ini kepada anak dan cucu generasi kita mendatang dengan seadil-adilnya. (HSH). 

Advertisements

Write a comment or Leave a Reply. Thank You! Kind Regards Web Administrator/Editor

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s