SISTEM PENDIDIKAN ISLAM BERPENGARUH DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN YANG BAIK


SISTEM PENDIDIKAN ISLAM BERPENGARUH DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN YANG BAIK

Oleh Syarif Hidayat

Para psikolog memandang kepribadian sebagai struktur dan proses psikologis yang tetap, yang menyusun pengalaman-pengalaman individu serta membentuk berbagai tindakan dan respons individu terhadap lingkungan tempat hidup.

Dalam masa pertumbuhannya, kepribadian bersifat dinamis, berubah-ubah dikarenakan pengaruh lingkungan, pengalaman hidup, ataupun pendidikan. Kepribadian tidak terjadi secara serta merta, tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang.

Dengan demikian, apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk, kuat atau lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perjalanan kehidupan seseorang tersebut.

Kepribadian dalam kehidupan sehari-hari mengandung sifat-sifat manusiawi kita, alam pikiran, emosi, bagian interior kita yang berkembang melalui interaksi indra-indra fisik dengan lingkungan. Namun lebih dalam lagi, kepribadian sesungguhnya merupakan produk kondisi jiwa (nafs) kita yang saling berhubungan. Atau, dapat dikatakan pula bahwa kepribadian seseorang berbanding lurus dengan kondisi jiwanya (nafs).

Menurut seorang ahli psikologi terkenal dari Barat, Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Sigmund Freud yang terkenal dengan Teori Psikoanalisis itu, dilahirkan di Morovia, pada tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939. Dalam Teori Psikoanalisis, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari  Id, Ego dan Superego:

Id merupakan sistem kepribadian yang orisinil, dimana ketika manusia itu dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari energi psikis dan tempat timbulnya instink. Id tidak memiliki organisasi, buta, dan banyak tuntutan dengan selalu memaksakan kehendaknya.

Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Di sini Ego berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalulintas” yang selalu mengontrol jalannya Id dan Superego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara instink dengan dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan dari suatu organisme, seperti manusia lapar butuh makan. Jadi lapar adalah kerja Id dan yang memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta melaksanakan itu adalah kerja Ego.

Superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya. Di sini Superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal,  yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat.

      Namun disini kita tidak akan membahas banyak mengenai kepribadian manusia menurut teori atau ilmu psikologi Barat, tetapi akan mengupas tentang teori dan pola atau model kepribadian menurut ajaran Islam yang terkandung di dalam Al Qur’an.

 

 Model Kepribadian Menurut Al-Qur’an

Kepribadian merupakan “keniscayaan”, suatu bagian dalam (interior) dari diri kita yang masih perlu digali dan ditemukan agar sampai kepada keyakinan siapakah diri kita yang sesungguhnya.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah menerangkan model kepribadian manusia yang memiliki keistimewaan dibanding model kepribadian lainnya. Di antaranya adalah Surah al-Baqarah [2] ayat 1-20. Rangkaian ayat ini menggambarkan tiga model kepribadian manusia, yakni: Kepribadian Orang Beriman, Kepribadian Orang Kafir, dan Kepribadian Orang Munafik. Berikut ini adalah sifat-sifat atau ciri-ciri dari masing-masing tipe kepribadian berdasarkan apa yang dijelaskan dalam rangkaian ayat tersebut.

Kepribadian Orang Beriman (Mu’minun)

Dikatakan beriman bila ia percaya pada Rukun Iman yang terdiri atas: Iman kepada Allah SWT., Iman kepada para malaikat-Nya, Iman kepada Kitab-kitab-Nya, Iman kepada para rasul-Nya, Percaya pada Hari Akhir, dan Percaya pada ketentuan Allah (qadar/takdir). Rasa percaya yang kuat terhadap Rukun Iman tersebut akan membentuk nilai-nilai yang melandasi seluruh aktivitasnya. Dengan nilai-nilai itu, setiap individu seyogianya memiliki kepribadian yang lurus atau kepribadian yang sehat. Orang yang memiliki kepribadian lurus dan sehat ini memiliki ciri-ciri antara lain:

  • Akan bersikap moderat dalam segala aspek kehidupan,
  • Rendah hati di hadapan Allah SWT dan juga terhadap sesama manusia,
  • Senang menuntut ilmu,
  • Sabar,
  • Jujur, dan lain-lain.

Gambaran manusia mukmin dengan segenap ciri yang terdapat dalam Al-Qur’an ini merupakan gambaran manusia paripurna (insan kamil) dalam kehidupan ini, dalam batas yang mungkin dicapai oleh manusia. Allah SWT menghendaki kita untuk dapat berusaha mewujudkannya dalam diri kita.

Nabi Muhammad Rasulullah SAW telah membina generasi pertama kaum mukminin atas dasar ciri-ciri tersebut. Beliau berhasil mengubah kepribadian mereka secara total serta membentuk mereka sebagai mukmin sejati yang mampu mengubah wajah sejarah dengan kekuatan pribadi dan kemuliaan akhlak mereka. Singkatnya, kepribadian orang beriman dapat menjadi teladan bagi orang lain.

 

Kepribadian Orang Kafir (Kafirun)

Ciri-ciri orang kafir yang diungkapkan dalam Al-Qur’an antara lain:

  • Suka putus asa,
  • Tidak menikmati kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupannya,
  • Tidak percaya pada Rukun Iman yang selama ini menjadi pedoman keyakinan umat Islam,
  • Mereka tidak mau mendengar dan berpikir tentang kebenaran yang diyakini kaum Muslim,
  • Mereka sering tidak setia pada janji, bersikap sombong, suka dengki, cenderung memusuhi orang-orang beriman,
  • Mereka suka kehidupan hedonis, kehidupan yang serba berlandaskan hal-hal yang bersifat material. Tujuan hidup mereka hanya kesuksesan duniawi, sehingga sering kali berakibat ketidakseimbangan pada kepribadian,
  • Mereka pun tertutup pada pengetahuan ketauhidan, dan lain-lain.

Ciri-ciri orang kafirsebagaimana yang tergambar dalam Al-Qur’an tersebutmenyebabkan mereka kehilangan keseimbangan kepribadian, yang akibatnya mereka mengalami penyimpangan ke arah pemuasan syahwat serta kesenangan lahiriah dan duniawi. Hal ini membuat mereka kehilangan satu tujuan tertentu dalam kehidupan, yaitu beribadah kepada Allah SWT dan mengharap ridho-Nya untuk mengharap magfirah serta pahala-Nya di dunia dan akhirat.

Kepribadian Orang Munafik (Munafiqun)

Munafik adalah segolongan orang yang berkepribadian sangat lemah dan bimbang. Di antara sifat atau watak orang munafik yang tergambar dalam Al-Qur’an antara lain:

  • Mereka “lupa” dan menuhankan sesuatu atau seseorang selain Allah SWT.,
  • Dalam berbicara mereka suka berdusta,
  • Mereka menutup pendengaran, penglihatan, dan perasaannya dari kebenaran,
  • Orang-orang munafik ialah kelompok manusia dengan kepribadian yang lemah, peragu, dan tidak mempunyai sikap yang tegas dalam masalah keimanan.
  • Mereka bersifat hipokrit, yakni munafik, sombong, angkuh, dan cepat berputus asa.

Ciri kepribadian orang munafik yang paling mendasar adalah kebimbangannya antara keimanan dan kekafiran serta ketidakmampuannya membuat sikap yang tegas dan jelas berkaitan dengan keyakinan bertauhid. Dengan demikian, umat Islam sangat beruntung mendapatkan rujukan yang paling benar tentang kepribadian dibanding teori-teori lainnya, terutama diyakini rujukan tersebut adalah wahyu dari Allah SWT. yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, manusia teladan kekasih Allah SWT.

Oleh karena itu pula, Nabi Muhammad SAW. diutus oleh Allah SWT. ke muka bumi untuk memainkan peran sebagai model “insan kamil bagi umat manusia.

 

Dua macam kepribadian

Berangkat dari teori kepribadian dan pola atau model kebribadian menurut Al Qur’an tersebut, maka kita dapat membagi kepribadian manusia menjadi dua macam, yaitu:

1.Kepribadian kemanusiaan (basyariyyah)

Kepribadian kemanusiaan di sini mencakup kepribadian individu dan kepribadian ummah. Kepribadian individu di antaranya meliputi ciri khas seseorang dalam bentuk sikap, tingkah laku, dan intelektual yang dimiliki masing-masing secara khas sehingga ia berbeda dengan orang lain. Dalam pandangan Islam, manusia memang mempunyai potensi yang berbeda (al-farq al-fardiyyah) yang meliputi aspek fisik dan psikis.

Selanjutnya, kepribadian ummah meliputi ciri khas kepribadian muslim sebagai suatu ummah (bangsa/negara) muslim yang meliputi sikap dan tingkah laku ummah muslim yang berbeda dengan ummah lainnya, mempunyai ciri khas kelompok dan memiliki kemampuan untuk mempertahankan identitas tersebut dari pengaruh luar, baik ideologi maupun lainnya yang dapat memberikan dampak negatif.

 

2. Kepribadian samawi (kewahyuan)

Yaitu, corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab suci Al-Qur’an, sebagaimana termaktub dalam firman Allah sebagai berikut: “Dan, bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Al Qur’an, surah al-An’am [6]: 153)

Itulah beberapa gambaran mengenai psikologi dan kepribadian manusia dalam Al-Qur’an. Tentu gambaran ini belum sepenuhnya berhasil mencakupkeseluruhan maksud Al-Qur’an mengenai manusia dengan segala kepribadiannya yang sangat kompleks.   Sebab, begitu luasnya aspek kepribadian manusia sehingga usaha untuk mengungkap hakikat manusia merupakan pekerjaan yang sukar. Walaupun demikian, paling tidak penjelasan ini dapat memberikan gambaran bahwa manusia memiliki dua potensi yang saling berlawanan, yaitu potensi baik dan potensi buruk. Dua potensi ini lantas memilah manusia ke dalam tiga kategori atau model kepribadian, yaitu mukmin, kafir, dan munafik.

Pembinaan kepribadian lewat pendidikan

Pembinaan kepribadian manusia lewat pendidikan yang baik akan menuntun manusia agar bisa memperkokoh potensi baiknya sehingga ia bisa memaksimalkan tugas utamanya untuk beribadah kepada Allah SWT dan menjadi khalifah Allah SWT di muka bumi. Sebaliknya, pembinaan kepribadian manusia yang kurang maksimal akan memerosokkan manusia ke dalam derajat yang sangat rendah, bahkan lebih rendah dari binatang.

Pentingnya pendidikan bagi setiap insan Muslim ini ditekankan oleh Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadistnya bahwa: “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim sejak lahir sampai mati.” Kesempurnaan sistem pendidikan Islam tersebut terlihat dalam sistem pendidikan Nabi Muhammad Rosulullah SAW dalam mendidik para shahabat yang telah menghasilkan generasi yang tak ada duanya. Generasi  yang disebut-sebut sebagai generasi terbaik yang pernah muncul di muka bumi ini. Tak ada yang mampu menandinginya baik sebelum dan sesudah generasi shahabat tersebut.

Namun bukan berarti sepeninggal Rosulullah, kita tak akan merasakan dan tak mampu melaksanakan pendidikan Islam. Sebab beliau telah meninggalkan dua kurikulum yang dapat kita pakai acuan dalam mendidik manusia yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Pendikan Islam  bertujuan menumbuhkan keseimbangan pada kepribadian manusia, sedangkan tujuan akhir pendidikan Islam adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah SWT, pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya.

Oleh karena itu Islam memandang, kegiatan pendidikan merupakan satu-kesatuan integral yang melibatkan seluruh aspek kehidupan manusia. Ia harus berjalan harmoni dan seimbang serta menjadi tanggung jawab manusia secara keseluruhan dalam melahirkan kehidupan yang sehat, bersih dan benar (Islami).

Sebuah pribahasa Jerman mengatakan: “Alter schützt vor Torheit nicht.” Artinya: Usia tua tidak dapat melindungi kita dari kebodohan. Maknanya: Usia tua tidak bisa menjamin bahwa kita akan menjadi lebih bijak.

Tetapi untuk memiliki kepribadian yang baik dan Islami ini terutama bagi penulis sendiri hanya mudah mengatakannya saja, tapi sangat sulit untuk merealisasikannya, persis seperti apa yang dikatakan dalam pribahasa Jerman lainnya: “Leichter gesagt als getan.” Yang artinya: Lebih mudah dikatakan daripada dikerjakan. (HSH)

Advertisements

Write a comment or Leave a Reply. Thank You! Kind Regards Web Administrator/Editor

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s