INDONESIA RINDUKAN PEMIMPIN JUJUR, CERDAS DAN DAPAT DIANDALKAN


INDONESIA RINDUKAN PEMIMPIN JUJUR, CERDAS, TEGAS, KOMUNIKATIF DAN DAPAT DIANDALKAN

oleh Syarif Hidayat* 

Koruptor Gila1        Rakyat Indonesia merindukan seorang pemimpin yang jujur, cerdas, tegas dan komunikatif serta dapat diandalkan untuk mengahadapi bergabagai tantangan masa depan dan mengatasi berbagai masalah yang dihadapi Indonesia dalam berbangsa dan bernegara.

        Para pemimpin kita banyak yang berpendidikan tinggi dan cerdas, tetapi nampaknya sangatlah sulit untuk mencari figure pemimin yang amanah di antara mereka.

        Ini merupakan salah satu penyebab kenapa Indonesia yang telah merdeka selama 68 tahun, sudah memilki enam presiden, sumber daya alam (SDA) di darat dan di laut yang kaya raya dan melimpah ruah, sumber daya manusia (SDM) yang pintar-pintar mulai dari sarjana lulusan Dalam Negeri sampai Luar Negeri yang bekerja di lembaga-lembaga penyelenggaraan Negara cukup banyak, tapi adil dan makmur sesuai Amanat UUD45, belum juga tercapai.

         Pemimpin yang tidak amanah menimbulkan masalah KORUPSI yang telah MEMBUDAYA dan merasuk kemana-mana. Kenapa KORUPSI sampai membudaya? Salah satu penyebabnya adalah banyak diantara pejabat Negara yang “CORRUPTIBLE” (berjiwa lemah dan mudah disuap) dan adanya KOLUSI antara para KONGLOMERAT atau pengusaha yang tidak bermoral dengan para pejabat Negara yang juga tidak bermoral, karena agama hanya merupakan catatan di KTP mereka saja!

        Menjadi pemimpin merupakan  amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena kelak Allah SWT akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu.

        Sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu, Allah SWT telah mengingatkan kepada kita semua. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya” (Al Qur’an, Surah Al-Anfal, Ayat 27).

      Tahun 2014 bangsa Indonesia akan menyelenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Perlombaan lari menuju kursi kepresidenan oleh semua partai politik terutama partai partai politik yang besar dengan menampilkan para capres atau cawapres mereka masing masing saat ini sudah dimulai secara gencar.

 

Pemimpin Ideal Menurut Islam

Pemimpin-sejati         Berbicara tentang pemimpin yang ideal menurut Islam erat kaitannya dengan figur Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah pemimpin agama dan juga pemimpin ummat. Rasulullah SAW merupakan suri tauladan bagi setiap orang, termasuk para pemimpin karena dalam diri beliau hanya ada kebaikan, kebaikan dan kebaikan.

        Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

        Sebagai pemimpin teladan yang menjadi model ideal pemimpin, Rasulullah SAW dikaruniai empat sifat utama, yaitu: Sidiq, Amanah, Tablig dan Fathonah. Sidiq berarti jujur dalam perkataan dan perbuatan, amanah berarti dapat dipercaya dalam menjaga tanggung jawab, Tablig berarti menyampaikan segala macam kebaikan kepada rakyatnya dan fathonah berarti cerdas dalam mengelola masyarakat.

 

Sidiq (Jujur) 

        Kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatu sebagaimana dengan fakta. Di antaranya yaitu kata “rajulun shaduq (sangat jujur)”, yang lebih mendalam maknanya daripada shadiq (jujur). Al-mushaddiq yakni orang yang membenarkan setiap ucapanmu, sedang ash-shiddiq ialah orang yang terus menerus membenar-kan ucapan orang, dan bisa juga orang yang selalu membuktikan ucapannya dengan perbuatan.

        Di dalam al-Qur’an disebutkan (tentang ibu Nabi Isa), “Dan ibunya adalah seorang”shiddiqah.” (Al-Maidah: 75). Maksudnya ialah orang yang selalu berbuat jujur. Kejujuran merupakan syarat utama bagi seorang pemimpin. Masyarakat akan menaruh respek kepada pemimpin apabila dia diketahui dan juga terbukti memiliki kualitas kejujuran yang tinggi.

       Pemimpin yang memiliki prinsip kejujuran akan menjadi tumpuan harapan para pengikutnya. Mereka sangat sadar bahwa kualitas kepemimpinannya ditentukan seberapa jauh dirinya memperoleh kepercayaan dari pengikutnya.

        Seorang pemimpin yang sidiq atau bahasa Inggerisnya honest akan mudah diterima di hati masyarakat, sebaliknya pemimpin yang tidak jujur atau khianat akan dibenci oleh rakyatnya. Kejujuran seorang pemimpin dinilai dari perkaataan dan sikapnya. Sikap pemimpin yang jujur adalah manifestasi dari perkaatannya, dan perkatannya merupakan cerminan dari hatinya.

        Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disifati dengan ash-shadiqul amin (jujur dan terpercaya) , dan sifat ini telah diketahui oleh orang Quraisy sebelum beliau diutus menjadi rasul. Demikian pula Nabi Yusuf ’alaihis salam juga disifati dengannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru), “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya.” (QS.Yusuf: 46)

        Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga mendapatkan julukan ini (ash-shiddiq). Ini semua menunjukkan hawa kejujuran merupakan salah satu perilaku kehidupan terpenting para rasul dan pengikut mereka.Dan kedudukan tertinggi sifat jujur adalah “ash-shiddiqiyah” yakni tunduk terhadap rasul secara utuh (lahir batin) dan diiringi keikhlasan secara sempurna kepada Pengutus Allah.

         Imam Ibnu Katsir berkata, “Jujur merupakan karakter yang sangat terpuji, oleh karena itu sebagian besar sahabat tidak pernah coba-coba melakukan kedustaan baik pada masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam. Kejujuran merupakan cirrikeimanan, sebagaimana pula dusta adalah ciri kemunafikan, maka barang siapajujur dia akan beruntung.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/643)

        Dalam Al-Qur’an surat At-taubah ayat 119, Allah SWT mengisyaratkan kepada muslimin untuk senantiasa bersama orang-orang yang jujur.

“Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yangbenar.”(QS. At-Taubah:119)

Rasulullah SAW bersabda mengenai pentingnya kejujuran.

“Jauhilah dusta karena dusta akan membawa kepada dosa dan dosa membawamu ke neraka. Biasakanlah berkata jujur karena jujur akan membawamu kepada kebajikan dan kebajikan membawamu ke surga” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Tablig (Komunikatif)

        Kemampuan berkomunikasi merupakan kualitas ketiga yang harus dimiliki oleh pemimpi sejati. Pemimpin bukan berhadapan dengan benda mati yang bisa digerakkan dan dipindah-pindah sesuai dengan kemauannya sendiri, tetapi pemimpin berhadapan dengan rakyat manusia yang memiliki beragam kecenderungan. Oleh karena itu komunikasi merupakan kunci terjainnya hubungan yang baik antara pemimpin dan rakyat.

        Pemimpin dituntut untuk membuka diri kepada rakyatnya, sehingga mendapat simpati dan juga rasa cinta. Keterbukaan pemimpin kepada rakyatnya bukan berarti pemimpin harus sering curhat mengenai segala kendala yang sedang dihadapinya, akan tetapi pemimpin harus mampu membangun kepercayaan rakyatnya untuk melakukan komunikasi dengannya. Sebagai contoh, Rasulullah SAW pernah didatangi oleh seorang perempuan hamil yang mengaku telah berbuat zina.

        Si perempuan menyampaikan penyesalannya kepada Rasul dan berharap diberikan sanksi berupa hukum rajam. Hal ini terjadi karena sebagai seorang pemimpin Rasulullah membuka diri terhadap umatnya.

Salah satu ciri kekuatan komunikasi seorang pemimpin adalah keberaniannya menyatakan kebenaran meskipun konsekwensinya berat.

      Dalam istilah Arab dikenal ungkapan, “kul al-haq walau kaana murran”, katakanlah atau sampaikanlah kebenaran meskipun pahit rasanya. Tablig juga dapat diartikan sebagai akuntabel, atau terbuka untuk dinilai. Akuntabilitas berkaitan dengan sikap keterbukaan (transparansi) dala kaitannya dengan cara kita mempertanggungkawabkan sesuatu di hadapan orang lain.

        Sehingga, akuntabilitas merupakan bagian melekat dari kredibilitas. Bertambah baik dan benar akuntabilitas yang kita miliki, bertambah besar tabungan kredibilitas sebagai hasil dari setoran kepercayaan orang-orang kepada kita.

 

Amanah (Terpercaya)

         Nabi Muhammad SAW bahkan sebelum diangkat menjadi rasul telah menunjukkan kualitas pribadinya yang diakui oleh masyarakat Quraish. Beliau dikenal dengan gelar Al-Amien, yang terpercaya. Oleh karena itu ketika terjadi peristiwa sengketa antara para pemuka Quraish mengenai siapa yang akan meletakkan kembali hajar aswad setelah renovasi Ka’bah, meraka dengan senang hati menerima Muhammad sebagai arbitrer, padahal waktu itu Muhammad belum termasuk pembesar.

         Amanah merupakan kwalitas wajib yang harus dimiliki seorang pemimpin. Dengan memiliki sifat amanah, pemimpin akan senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat yang telah diserahkan di atas pundaknya. Kepercayaan maskarakat berupa penyerahan segala macam urusan kepada pemimpin agar dikelola dengan baik dan untuk kemaslahatan bersama.

        Terjadinya banyak kasus korupsi di negara kita, merupakan bukti nyata bahwa bangsa Indonesia miskin pemimpin yang amanah. Para pemimpin dari mulai tingkat desa sampai negara telah terbiasa mengkhianati kepercayaan masyarakat dengan cara memanfaatkan jabatan sebagai jalan pintas untuk memperkaya diri. Pemimpin semacam ini sebenarnya tidak layak disebut sebagai pemimpin, mereka merupakan para perampok yang berkedok.

          Mengenai nilai amanah, Daniel Goleman mencatat beberapa ciri orang yang memiliki sifat tersebut.

•Dia bertindak berdasarkan etika dan tidak pernah mempermalukan orang

•Membangun kepercayaan diri lewat keandalan diri dan autentisitas (kemurnia/kejujuran)

•Berani mengakui kesalahan sendiri dan berani menegur perbuatan tidka etis ornag lain

•Berpegang kepada prinsip secara teguh, walaupun resikonya tidak disukai serta memiliki komitmen dan menepati janji

•Bertangung jawab sendiri untuk memperjuangkan tujuan serta terorganisir dan cermat dalam bekerja. (Goleman, 1998)

         Amanah erat kaitanya dengan janggung jawab. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang bertangggung jawab. Dalam perspektif Islam pemimpin bukanlah raja yang harus selalu dilayani dan diikuti segala macam keinginannya, akan tetapi pemimpin adalah khadim. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan “sayyidulqaumi khodimuhum”, pemimpin sebuah masyarakat adalah pelayan mereka.

        Sebagai seorang pembantu, pemimpin harus merelakan waktu. Tenaga dan pikiran untuk melayani rakyatnya. Pemimpin dituntut untuk melepaskan sifat individualis yang hanya mementingkan diri sendiri. Ketika menjadi pemimpin maka dia adalah kaki-tangan rakyat yang senantiasa harus melakukan segala macam pekerjaan untuk kemakmuran dan keamanan rakyatnya.

        Dalam buku “The 21 Indispensable Quality of Leader,” John C. Maxwell menekankan bahwa tanggung jawab bukan sekedar melaksanakan tugas, namun pemimpin yang bertanggung jawab harus melaksanakan tugas dengan lebih, berorienatsi kepada ketuntasan dan kesempurnaan. “Kualitas tertinggi dari seseorang yang bertangging jawab adalah kemampuannya untuk menyelesaikan”.

 

Fathonah (Cerdas)

         Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan di atas rata-rata masyarakatnya sehinga memiliki kepercayaan diri. Kecerdasan pemimpin akan membantu dia dalam memecahkan segala macam persoalan yang terjadi di masyarakat.

        Pemimpin yang cerdas tidak mudah frustasi menghadapai problema, karena dengan kecerdasannya dia akan mampu mencari solusi. Pemimpin yang cerdas tidak akan membiarkan masalah berlangsung lama, karena dia selalu tertantang untuk menyelesaikan masalah tepat waktu.

        Contoh kecerdasan luar biasa yang dimiliki oleh khalifah kedua Sayyidina Umar ibn Khattab adalah ketika beliau menerima kabar bahwa pasukan Islam yang dipimpin oleh Abu Ubaidah ibnu Jarrah yang sednag bertugas di Syria terkena wabah mematikan.

         Sebagai pemimpin yang bertanggung jawab, Umar ibn Khattab segera berangkat dari Madinah menuju Syria untuk melihat keadaan pasukan muslim yang sedang ditimpa musibah tersebut.

         Ketika beliau sampai di perbatasan, ada kabar yang menyatakan bahwa keadaan di tempat pasukan mulimin sangat gawat. Semua orang yang masuk ke wilayah tersebut akan tertular virus yang mematikan.

       Mendengar hal tersebut, Umar ibn Khattab segera mengambil tindakan untuk mengalihkan perjalanan. Ketika ditanya tentang sikapnya yang tidak konsisten dan dianggap telah lari dari takdir Allah, Umar bin Khattab menjawab, “Saya berplaing dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain”.

          Kecerdasan pemimpin tentunya ditopang dengan keilmuan yang mumpuni. Ilmu bagi pemimpin yang cerdas merupakan bahan bakar untuk terus melaju di atas roda kepemimpinannya. Pemimpin yang cerdas selalu haus akan ilmu, karena baginya hanya dengan keimanan dan keilmuan dia akan memiliki derajat tinggi di mata manusia dan juga pencipta.

          Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an. “Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS.Al Mujadalah:11)

ZalimPemimpin yang amanah

 

       “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: Dan dari keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt menjawab: Janji (amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim“.(Qs. Al-Baqarah :124)

         Ayat tersebut berkaitan dengan seorang pemimpin yang mempunyai sikap amanah, dan Istilah amanah itu sendiri mendapat porsi yang cukup spesial dalam Al-Qur’an dengan beragam konteks pembicaraan. Yang pasti bahwa kata tersebut selalu berkaitan dengan rasa ketenangan atau sikap tidak takut terhadap apa pun dalam menjalankan tugas yang diemban seorang pemimpin sebagaimana yang dimuat dalam banyak kamus.

        Pengertian literal ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa keamanahan sangat berkaitan dengan sikap ketenangan karena menjalankan tugas ini dapat menghindarkan seorang pemimpin untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan yang ada dalam sistem yang berlaku di setiap wilayah.

        Pengertian ini juga berkaitan dengan apa yang akan dihasilkan oleh sikap keamanahan dalam menjalankan kepemimpinan itu dengan amanah tidak akan mengkhawatirkan diri dari segala bentuk kecenderungan yang membawanya pada kondisi terjerumus pada kecurangan dan merugikan masyarakat yang ia pimpin. Sehingga untuk mengukur keberhasilan seorang pemimpin dalam kepemimpinannya itu adalah dengan keamanahan.

        Pentingnya keamanahan ini dimiliki oleh seorang pemimpin, sehingga Al-Qur’an kerap mengulang-ulang dalam banyak surat yang intinya ingin menekankan untuk selalu konsisten dalam menjalankan kepemimpinannya.

       Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa pesan Al-Qur’an tersebut untuk segera dilaksanakan oleh seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya. Namun, tidak mengherankan kalau Al-Qur’an juga mengakui di antara salah satu kecenderungan manusia untuk menuruti hawa nafsunya dan berbuat sesuatu di luar keamanahan tersebut, sebagaimana firman Allah : “Dan bila dikatakan kepada mereka “janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab, “sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. (Qs. al-Baqarah: 11).

        Untuk itu, nampaknya al-Qur’an juga mengaitkan tema keamanahan dengan konsekuensi kepatuhan kepada Tuhan sebab sangat mustahil seorang pemimpin mampu berlaku amanah jika tidak memiliki landasan kepatuhan yang tinggi kepada Tuhan.

         Seorang pemimpin yang tidak memiliki kesadaran ketuhanan, maka akan “pincang” dalam melaksanakan kepemimpinannya. Dengan demikian, dapat dinyatakan lebih luas bahwa amanah kepemimpinan akan tumbuh subur dalam diri seseorang apabila ia benar-benar memiliki komitmen yang tinggi dan mampu menyerap semua ajaran yang diperintahkan Tuhan dalam praktek keagamaannya.

         Dalam konteks ini, amanah kepemimpinan adalah bahwa pemimpin itu harus benar-beanar menjalankan semua visi dan misi yang telah diproklamirkan sebelum menjadi pemimpin karena umumnya semua kita terpanggil untuk menentukan pilihan kepada seorang pemimpin tertentu karena diyakininya mampu menjalankan semua janji-janji yang dikampanyekannya saat meyakinkan masyarakat dengan mengedepankan segala kepentingan masyarakat di atas segalanya.

         Sejatinya, seorang pemimpin yang “prima” berupaya untuk menjalankan kepemimpinannya sebagai amanah yang dibebankan kepadanya, sebab harus diakui kadang hampir tidak mungkin kita menemukan seorang pemimpin yang benar-benar mampu menjalankan kebijaksanaan yang telah dijanjikan kepada masyarakat. Dalam konteks keamanahan ini, perlu ditegaskan dengan mengedepankan kepentingan masyarakat walaupun sebenarnya dinilai belum memenuhi segala kepentingan itu.

        Selain itu, seorang pemimpin tidak dibenarkan hanya berhenti pada tataran keamanahan level bawah, yaitu hanya memadakan komitmen tanpa adanya upaya realisasi melainkan terus berupaya untuk meningkatkan proses kerja dengan kesungguhan untuk menjalankan kepemimpinan itu secara maksimal dengan daya dan kemampuan yang dimiliki.

        Apabila hal itu tidak dilakukan, maka mustahil keamanahan kepemimpinan dapat terlaksana dengan baik, melainkan bisa mendatangkan kecurangan. Dan kecurangan itu akan mengawali setiap kerusakan berikutnya.

Pemimpin          Secara teknis, amanah itu sendiri dapat diperinci meminjam istilah Mushtafa al-Maraghi dalam tafsir al-Maraghi-nya. Setidaknya ada tiga klasifikasi yang harus dijalankan seorang pemimpin yang “prima” dalam artian politis.

        Pertama, amanah pemimpin kepada Tuhan, sesuai dengan yang terkandung dalam Al-Qur’an, Surah Al-Anfal: 27  dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya sebagaimana yang berlangsung sebelumnya.

        Untuk itu keamanahan kepada Tuhan sebagai prioritas utama karena semua itu memiliki konsekuensi yang sangat jelas dalam menentukan kualitas kepemimpinan seorang pemimpin. Dengan kata lain, keamanahan kepada Tuhan memiliki “daya pantul” dalam membentuk prilaku seorang pemimpin dalam segala aspek kehidupannya sebagaimana lazimnya bahwa seseorang akan dipengaruhi dengan apa yang diyakini dan sebelumnya menyatu dalam dirinya (kepercayaan).

        Kedua, amanah pemimpin kepada masyarakat, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Qs. an-Nisa: 58).

        Dalam konteks keamanahan ini tentunya seorang pemimpin harus memberikan hak penuh kepada masyarakat yang dipimpinnya dengan memberikan apa yang dibutuhkan masyarakat dan tidak pernah berusaha mencari keuntungan pribadi atas kepentingan masyarakat karena seorang pemimpin itu juga adalah bagian dari masyarakat, sehingga dalam menjalankan kepemimpinannya ia harus benar-benar merasakan apa yang dirasakan masyarakat.

        Ketiga, amanah pemimpin kepada dirinya sendiri, yaitu seorang pemimpin sebagaimana lazimnya manusia lainnya tentu juga memiliki hak untuk mendapatkan ketenangan baik secara fisik maupun mental, karena ini merupakan cerminan dari substansi ajaran Islam yang selalu moderat dan tidak ekstrim terhadap diri sendiri.

        Demikian tentunya, seorang pemimpin juga harus memperhatikan kebutuhannya yang wajar tanpa berlebihan. Apabila ketiga unsur amanah itu dapat dipraktekkan seorang pemimpin dalam kepemimpinannya, maka segala kebaikan akan selalu menyertai setiap aktifitas yang dilakukan.

        Oleh karena itu, rakyat Indonesia yang mempunyai hak pilih dalam memilih para calon legislatif, calon wakil presiden dan calon presiden harus betul betul tabayun (check and double check) atau dalam istilah dagang: ‘teliti sebelum membeli’. Tabayyun dalam arti luas mencari kejelasan hakekat sesuatu atau kebenaran suatu fakta dengan teliti, seksama dan hati-hati. Ini harus kita lakukan agar kita tidak menyesal di kemudian hari akibat kesalahan dalam memilih seorang pemimpin.(T/HSH)

*Editor MINA (Ia dapat dihubungi via email: alhajsyarif@yahoo.com)

Bibliotheque:

1.http://www.quranexplorer.com/Quran/Default.aspx

2.http://bambumoeda.wordpress.com/2012/05/29/

3. http://alquranalhadi.com/index.php/kajian/tema/1794/

4. http://www.hikmahalquran.com/36/82/26/

Advertisements

Write a comment or Leave a Reply. Thank You! Kind Regards Web Administrator/Editor

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s