OH INDONESIA, TANAH AIRKU YANG DILANDA WABAH KORUPSI!


Koruptor Gila1aNEGERI YANG SUBUR MAKMUR NAN KAYA RAYA AKAN BERBAGAI SUMBER ALAMYA BAIK DI DARAT MAUPUN DI LAUT INI SEKARANG TENGAH DILANDA WABAH KORUPSI!

oleh Syarif Hidayat

Pemiliham Umum (Pemilu) sudah tiga bulan berlalu dan Pemilihan Presiden (Pilpres) masih beberapa hari lagi dan perlombaan lari menuju kursi kepresidenan oleh partai partai politik dengan menjagokan para capres mereka masing masing (Capres: Prabowo Subianto dari Gerindra yang didampingi Cawapres Hatta Rajasa dari Partai Amanat Nasional dan Capres: Joko Widodo dari PDIP yang didampingi Cawapres Jusuf Kalla dari Partai Gokar) semakin gencar termasuk di Facebook dan debat Capres dan Cawaprespun sudah ditayangkan di televisi.

Sistem demokrasi yang berkembang di negeri ini mempunyai pengaruh besar terhadap nasib dan masa depan bangsa dan negara kita untuk menjadi suatu Negara maju dengan rakyatnya yang sejahtera, aman dan damai atau menjadi suatu Negara yang terkebelakang dan rakyatnya miskin, semantara yang meninkmati kekayaan hanyalah beberapa gelintir saja.

DEMOKRASI PANCASILA = Sistem Demokrasi Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat. Hasil yang dicita-citakan: Negara Maju dan Rakyatnya Hidup Sejahtera, Aman dan Damai di negeri yang subur makmur ini.

”CORRUPTED DEMOCRACY” (DEMOKRASI YANG RUSAK atau juga mungkin bisa disebut sebagai DEMOKRASI PENGUASA) = Perebutan Kursi Kekuasaan dengan menggunakan segala cara termasuk “Money Politics” (Politik Suap Menyuap), Oleh Para “Elite” (atau Badut?) Politik dan Untuk keuntungan mereka sediri (Menjadi Penguasa).

Hasil yang didapatkan: Budaya Korupsi yang merajalela dimana mana dan rakyat makin banyak yang menderita akibat dana yang seharusnya dipakai semaksimal mungkin untuk pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan rakyat dirampok leh para KORUPTOR serta negeri yang subur makmur ini bisa menjadi miskin dan tandus kering kerontang.

Sebagai contoh sekarangpun diperkirakan sudah jutaan hektar hutan yang gundul mungkin akibat ulah para pengusaha HPH yang tidak bertanggungjawab yang berkolusi dengan para KORUPTOR!

Pemimpin intrinsik dan pemimpin nominal

Presiden Indonesia dan para pemimpin nasional harusnya terdiri dari orang-orang yang “sudah selesai dengan diri sendiri”, yang kehadiran mereka di meja kekuasaan lebih didorong oleh panggilan untuk mengabdi kepada rakyat, bukan untuk memenuhi hasrat berkuasa. Nurani seorang pemimpin yang autentik akan memiliki sensitivitas untuk membedakan antara keterpanggilan, keinginan, dan nafsu berkuasa.

Sebagaimana nilai mata uang, kepempimpinan seseorang juga dapat ditakar apakah ia memiliki nilai intrinsik atau sekadar nilai nominal. Seseorang dikategorikan memiliki kepemimpinan intrinsik apabila basis pengaruh dan kekuatannya muncul dari dalam dirinya, yakni: kompetensi, integritas, dan kepribadian yang membuat ia memiliki pesona dan karisma.

Orang semacam ini senantiasa menjalankan berbagai inisiatif dan kepeloporan, yang merupakan refleksi dari tanggung jawabnya kepada lingkungan. Dengan atau tanpa jabatan, para pemimpin intrinsik tetap bersuara, bergerak, didengar, dan diikuti sebagai pendorong perubahan. Bagi mereka, penguasaan keahlian, pengetahuan, dan menjaga kredibilitas jauh lebih penting ketimbang mengejar kekuasaan formal.
Presiden atau pemimpin sejatinya ada dua jenis atau tipe, yaitu pemimpin intrinsik dan pemimpin nominal. Presiden atau pemimpin tipe intrinsik lebih suka mengasah diri melalui proses pembelajaran terus-menerus, untuk menjaga kesiapannya sewaktu-waktu dibutuhkan. Mereka pada umumnya adalah individu yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, memiliki pandangan jauh ke depan. Ucapan dan tindakan mereka menjadi sumber inspirasi bagi orang banyak.

Sedangkan pemimpin nominal adalah mereka yang membangun basis kekuatan dan pengaruhnya lebih berdasarkan pangkat dan jabatan formal. Kemampuannya menggerakkan sesuatu lebih karena ia menduduki posisi formal, meski belum tentu ahli dan berkarakter sebagai pemimpin. Semakin tinggi jabatan dan kekuasaannya, ia akan makin merasa kuat dan berpengaruh. Begitu kekuasaan dan jabatan itu hilang, sirna pulalah pengaruh dan kekuatannya.

Para pemimpin nominal inilah yang sering mengalami sindrom kehilangan kekuasaan (post power syndrome), sesudah tak lagi berkuasa. Karena kekuasaan dan jabatan bagi mereka adalah segala-galanya, maka tak jarang para pemimpin nominal mengejar kedudukan dengan segala cara, bahkan menempuh jalan yang merusak diri dan lingkungannya.

Presiden nominal sejatinya menganggap bahwa keahlian, keluasan wawasan, dan kejujuran bukanlah faktor yang penting, karena bagi mereka segala sesuatu “dapat dibeli”. Sejarah mengajari kita: para pemimpin nominal sering terjerumus pada kesewenangan yang kerap menghancurkan diri mereka sendiri.

Berharap Piplres 2014 hanya menghasilkan para pemimpin intrinsik tentulah tidak realistis, mengingat dunia nyata memang selalu berwarna. Tetapi memahami kehendak jaman bahwa kehadiran pemimpin intrinsik akan makin diperlukan, bukanlah mengada-ada. Semakin maju peradaban, makin modern dan terbuka masyarakat, maka meritokrasi dan kompetensi kian jadi tuntutan.

Rakyat rindukan pemimpin yang amanah

Rakyat Indonesia merindukan seorang pemimpin yang jujur, cerdas, tegas dan komunikatif serta dapat diandalkan untuk mengahadapi bergabagai tantangan masa depan dan mengatasi berbagai masalah yang dihadapi Indonesia dalam berbangsa dan bernegara.
Para pemimpin kita banyak yang berpendidikan tinggi dan cerdas, tetapi nampaknya sangatlah sulit untuk mencari figure pemimin yang amanah di antara mereka.

Ini merupakan salah satu penyebab kenapa Indonesia yang telah merdeka selama 68 tahun, sudah memilki enam presiden, sumber daya alam (SDA) di darat dan di laut yang kaya raya dan melimpah ruah, sumber daya manusia (SDM) yang pintar-pintar mulai dari sarjana lulusan Dalam Negeri sampai Luar Negeri yang bekerja di lembaga-lembaga penyelenggaraan Negara cukup banyak, tapi adil dan makmur sesuai Amanat UUD45, belum juga tercapai.

Pemimpin yang tidak amanah menimbulkan masalah KORUPSI yang telah MEMBUDAYA dan merasuk kemana-mana. Kenapa KORUPSI sampai membudaya? Salah satu penyebabnya adalah banyak diantara pejabat Negara yang “CORRUPTIBLE” (berjiwa lemah dan mudah disuap) dan adanya KOLUSI antara para KONGLOMERAT atau pengusaha yang tidak bermoral dengan para pejabat Negara yang juga tidak bermoral, karena agama hanya merupakan catatan di KTP mereka saja!

Menjadi pemimpin merupakan amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena kelak Allah SWT akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu.

Sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu, Allah SWT telah mengingatkan kepada kita semua. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya” (Al Qur’an, Surah Al-Anfal, Ayat 27).

Pemimpin Ideal Menurut Islam

Indonesia tanpa Korupsi1Berbicara tentang pemimpin yang ideal menurut Islam erat kaitannya dengan figur Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah pemimpin agama dan juga pemimpin negara. Rasulullah SAW merupakan suri tauladan bagi setiap orang, termasuk para pemimpin karena dalam diri beliau hanya ada kebaikan, kebaikan dan kebaikan.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

Sebagai pemimpin teladan yang menjadi model ideal pemimpin, Rasulullah SAW dikaruniai empat sifat utama, yaitu: Sidiq, Amanah, Tablig dan Fathonah. Sidiq berarti jujur dalam perkataan dan perbuatan, amanah berarti dapat dipercaya dalam menjaga tanggung jawab, Tablig berarti menyampaikan segala macam kebaikan kepada rakyatnya dan fathonah berarti cerdas dalam mengelola masyarakat.

Sidiq (Jujur)

Kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatu sebagaimana dengan fakta. Di antaranya yaitu kata “rajulun shaduq (sangat jujur)”, yang lebih mendalam maknanya daripada shadiq (jujur). Al-mushaddiq yakni orang yang membenarkan setiap ucapanmu, sedang ash-shiddiq ialah orang yang terus menerus membenar-kan ucapan orang, dan bisa juga orang yang selalu membuktikan ucapannya dengan perbuatan.

Di dalam al-Qur’an disebutkan (tentang ibu Nabi Isa), “Dan ibunya adalah seorang”shiddiqah.” (Al-Maidah: 75). Maksudnya ialah orang yang selalu berbuat jujur. Kejujuran merupakan syarat utama bagi seorang pemimpin. Masyarakat akan menaruh respek kepada pemimpin apabila dia diketahui dan juga terbukti memiliki kualitas kejujuran yang tinggi.

Pemimpin yang memiliki prinsip kejujuran akan menjadi tumpuan harapan para pengikutnya. Mereka sangat sadar bahwa kualitas kepemimpinannya ditentukan seberapa jauh dirinya memperoleh kepercayaan dari pengikutnya.

Seorang pemimpin yang sidiq atau bahasa Inggerisnya honest akan mudah diterima di hati masyarakat, sebaliknya pemimpin yang tidak jujur atau khianat akan dibenci oleh rakyatnya. Kejujuran seorang pemimpin dinilai dari perkaataan dan sikapnya. Sikap pemimpin yang jujur adalah manifestasi dari perkaatannya, dan perkatannya merupakan cerminan dari hatinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disifati dengan ash-shadiqul amin (jujur dan terpercaya) , dan sifat ini telah diketahui oleh orang Quraisy sebelum beliau diutus menjadi rasul. Demikian pula Nabi Yusuf ’alaihis salam juga disifati dengannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru), “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya.” (QS.Yusuf: 46)

Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga mendapatkan julukan ini (ash-shiddiq). Ini semua menunjukkan hawa kejujuran merupakan salah satu perilaku kehidupan terpenting para rasul dan pengikut mereka.Dan kedudukan tertinggi sifat jujur adalah “ash-shiddiqiyah” yakni tunduk terhadap rasul secara utuh (lahir batin) dan diiringi keikhlasan secara sempurna kepada Pengutus Allah.

Imam Ibnu Katsir berkata, “Jujur merupakan karakter yang sangat terpuji, oleh karena itu sebagian besar sahabat tidak pernah coba-coba melakukan kedustaan baik pada masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam. Kejujuran merupakan cirrikeimanan, sebagaimana pula dusta adalah ciri kemunafikan, maka barang siapajujur dia akan beruntung.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/643)

Dalam Al-Qur’an surat At-taubah ayat 119, Allah SWT mengisyaratkan kepada muslimin untuk senantiasa bersama orang-orang yang jujur.
“Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yangbenar.”(QS. At-Taubah:119)

Rasulullah SAW bersabda mengenai pentingnya kejujuran. “Jauhilah dusta karena dusta akan membawa kepada dosa dan dosa membawamu ke neraka. Biasakanlah berkata jujur karena jujur akan membawamu kepada kebajikan dan kebajikan membawamu ke surga” (HR Bukhari dan Muslim)

Tablig (Komunikatif)

Kemampuan berkomunikasi merupakan kualitas ketiga yang harus dimiliki oleh pemimpi sejati. Pemimpin bukan berhadapan dengan benda mati yang bisa digerakkan dan dipindah-pindah sesuai dengan kemauannya sendiri, tetapi pemimpin berhadapan dengan rakyat manusia yang memiliki beragam kecenderungan. Oleh karena itu komunikasi merupakan kunci terjainnya hubungan yang baik antara pemimpin dan rakyat.

Pemimpin dituntut untuk membuka diri kepada rakyatnya, sehingga mendapat simpati dan juga rasa cinta. Keterbukaan pemimpin kepada rakyatnya bukan berarti pemimpin harus sering curhat mengenai segala kendala yang sedang dihadapinya, akan tetapi pemimpin harus mampu membangun kepercayaan rakyatnya untuk melakukan komunikasi dengannya. Sebagai contoh, Rasulullah SAW pernah didatangi oleh seorang perempuan hamil yang mengaku telah berbuat zina.

Si perempuan menyampaikan penyesalannya kepada Rasul dan berharap diberikan sanksi berupa hukum rajam. Hal ini terjadi karena sebagai seorang pemimpin Rasulullah membuka diri terhadap umatnya.

Salah satu ciri kekuatan komunikasi seorang pemimpin adalah keberaniannya menyatakan kebenaran meskipun konsekwensinya berat.
Dalam istilah Arab dikenal ungkapan, “kul al-haq walau kaana murran”, katakanlah atau sampaikanlah kebenaran meskipun pahit rasanya. Tablig juga dapat diartikan sebagai akuntabel, atau terbuka untuk dinilai. Akuntabilitas berkaitan dengan sikap keterbukaan (transparansi) dala kaitannya dengan cara kita mempertanggungkawabkan sesuatu di hadapan orang lain.

Sehingga, akuntabilitas merupakan bagian melekat dari kredibilitas. Bertambah baik dan benar akuntabilitas yang kita miliki, bertambah besar tabungan kredibilitas sebagai hasil dari setoran kepercayaan orang-orang kepada kita.

Amanah (Terpercaya)

Nabi Muhammad SAW bahkan sebelum diangkat menjadi rasul telah menunjukkan kualitas pribadinya yang diakui oleh masyarakat Quraish. Beliau dikenal dengan gelar Al-Amien, yang terpercaya. Oleh karena itu ketika terjadi peristiwa sengketa antara para pemuka Quraish mengenai siapa yang akan meletakkan kembali hajar aswad setelah renovasi Ka’bah, meraka dengan senang hati menerima Muhammad sebagai arbitrer, padahal waktu itu Muhammad belum termasuk pembesar.

Amanah merupakan kwalitas wajib yang harus dimiliki seorang pemimpin. Dengan memiliki sifat amanah, pemimpin akan senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat yang telah diserahkan di atas pundaknya. Kepercayaan maskarakat berupa penyerahan segala macam urusan kepada pemimpin agar dikelola dengan baik dan untuk kemaslahatan bersama.

Terjadinya banyak kasus korupsi di negara kita, merupakan bukti nyata bahwa bangsa Indonesia miskin pemimpin yang amanah. Para pemimpin dari mulai tingkat desa sampai negara telah terbiasa mengkhianati kepercayaan masyarakat dengan cara memanfaatkan jabatan sebagai jalan pintas untuk memperkaya diri. Pemimpin semacam ini sebenarnya tidak layak disebut sebagai pemimpin, mereka merupakan para perampok yang berkedok.

Mengenai nilai amanah, Daniel Goleman mencatat beberapa ciri orang yang memiliki sifat tersebut.
•Dia bertindak berdasarkan etika dan tidak pernah mempermalukan orang
•Membangun kepercayaan diri lewat keandalan diri dan autentisitas (kemurnia/kejujuran)
•Berani mengakui kesalahan sendiri dan berani menegur perbuatan tidka etis ornag lain
•Berpegang kepada prinsip secara teguh, walaupun resikonya tidak disukai serta memiliki komitmen dan menepati janji
•Bertangung jawab sendiri untuk memperjuangkan tujuan serta terorganisir dan cermat dalam bekerja. (Goleman, 1998)

Amanah erat kaitanya dengan janggung jawab. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang bertangggung jawab. Dalam perspektif Islam pemimpin bukanlah raja yang harus selalu dilayani dan diikuti segala macam keinginannya, akan tetapi pemimpin adalah khadim. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan “sayyidulqaumi khodimuhum”, pemimpin sebuah masyarakat adalah pelayan mereka.

Sebagai seorang pembantu, pemimpin harus merelakan waktu. Tenaga dan pikiran untuk melayani rakyatnya. Pemimpin dituntut untuk melepaskan sifat individualis yang hanya mementingkan diri sendiri. Ketika menjadi pemimpin maka dia adalah kaki-tangan rakyat yang senantiasa harus melakukan segala macam pekerjaan untuk kemakmuran dan keamanan rakyatnya.

Dalam buku “The 21 Indispensable Quality of Leader,” John C. Maxwell menekankan bahwa tanggung jawab bukan sekedar melaksanakan tugas, namun pemimpin yang bertanggung jawab harus melaksanakan tugas dengan lebih, berorienatsi kepada ketuntasan dan kesempurnaan. “Kualitas tertinggi dari seseorang yang bertangging jawab adalah kemampuannya untuk menyelesaikan”.

Fathonah (Cerdas)

Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan di atas rata-rata masyarakatnya sehinga memiliki kepercayaan diri. Kecerdasan pemimpin akan membantu dia dalam memecahkan segala macam persoalan yang terjadi di masyarakat.

Pemimpin yang cerdas tidak mudah frustasi menghadapai problema, karena dengan kecerdasannya dia akan mampu mencari solusi. Pemimpin yang cerdas tidak akan membiarkan masalah berlangsung lama, karena dia selalu tertantang untuk menyelesaikan masalah tepat waktu.

Contoh kecerdasan luar biasa yang dimiliki oleh khalifah kedua Sayyidina Umar ibn Khattab adalah ketika beliau menerima kabar bahwa pasukan Islam yang dipimpin oleh Abu Ubaidah ibnu Jarrah yang sednag bertugas di Syria terkena wabah mematikan.
Sebagai pemimpin yang bertanggung jawab, Umar ibn Khattab segera berangkat dari Madinah menuju Syria untuk melihat keadaan pasukan muslim yang sedang ditimpa musibah tersebut.

Ketika beliau sampai di perbatasan, ada kabar yang menyatakan bahwa keadaan di tempat pasukan mulimin sangat gawat. Semua orang yang masuk ke wilayah tersebut akan tertular virus yang mematikan.

Mendengar hal tersebut, Umar ibn Khattab segera mengambil tindakan untuk mengalihkan perjalanan. Ketika ditanya tentang sikapnya yang tidak konsisten dan dianggap telah lari dari takdir Allah, Umar bin Khattab menjawab, “Saya berplaing dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain”.
Kecerdasan pemimpin tentunya ditopang dengan keilmuan yang mumpuni. Ilmu bagi pemimpin yang cerdas merupakan bahan bakar untuk terus melaju di atas roda kepemimpinannya. Pemimpin yang cerdas selalu haus akan ilmu, karena baginya hanya dengan keimanan dan keilmuan dia akan memiliki derajat tinggi di mata manusia dan juga pencipta.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an. “Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS.Al Mujadalah:11). (HSH)

Advertisements

Write a comment or Leave a Reply. Thank You! Kind Regards Web Administrator/Editor

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s